DAUROH UNTUK UMUM PUTRA / PUTRI
IKUTIBEDAH BUKU : 14 CONTOH SIKAP HIKMAH DALAM BERDAKWAH BERSAMA :
AL USTADZ : ABDULLOH ZEIN Lc.
KANDIDAT DOKTOR UNIVERSITAS MADINAH JURUSAN AQIDAH
PADA HARI SABTU : 23 AGUSTUS 2003
TEMPAT : MASJID AGUNG DARUSSALAM CILACAP
PUKUL : 13.00 WIB SAMPAI DENGAN SELESAI
KAJIAN AKBAR : JADILAH SALAFI SEJATI
AL USTADZ ABDULLOH TASLIM Lc
KANDIDAT DOKTOR UNIVERSITAS MADINAH JURUSAN HADITS
PADA HARI MINGGU 24 AGUSTUS 2008
TEMPAT : SMA SRI MUKTI CILACAP
PUKUL : 09.00 WIB SAMPAI DENGAN SELESAI
Pemesanan Buku Lewat :
- SMS : 085640906230 ( Abu Ubaidillah )
CARANYA Ketik : PESAN(spasi)BUKU#NAMA#ASAL KOTA#JUMLAH
Contoh : PESAN BUKU#Ahmad#pati#1
- Langsung pesan saat kajian
Kamis, 2008 Agustus 21
Selasa, 2008 Agustus 12
MANUNGGALING KAWULA – GUSTI
Ajaran Kafir Tashowwuf Filasafat
Faham manunggaling kawula – Gusti yang dipopulerkan oleh Hu- sain bin Manshur Al-Hallaj dengan istilah Hulul secara sederhana dapat di definisikan dengan : Tuhan mengambil tempat dalam diri manusia terten-tu setelah manusia tersebut menghilangkan sifat-sifat kemanusiaannya. Ka-rena menurut Al-Hallaj, manusia memiliki dua sifat dasar, yaitu sifat Nasut ( kemanusiaan ) dan sifat Lahut ( ketuhanan ). Demikian pula dengan Tu-han yang juga memiliki kedua sifat tersebut, Lahut dan Nasut. Kesamaan inilah yang memungkinkan terjadinya penyatuan antara manusia dengan Tuhannya. Pendapat sesat ini didasari anggapan bahwa Adam 'alaihis-sa-laam sebagai manusia pertama telah dijadikan oleh Alloh sebagai copy da ri diri-Nya dengan segala sifat dan kebesarannya. Mereka mencari pembe-naran dari hadits :
خَلَقَ اللهُ آدَمَ عَلَى صُوْرَتِهِ
“Alloh telah menciptakan Adam berdasarkan bentuk-Nya.” [ HR. Bukhori ]
Padahal maksud hadits tersebut adalah berdasarkan bentuk-bentuk yang ada pada Alloh sesuai dengan kehendak-Nya yang tentunya berbeda hake katnya. Seperti Alloh menjadikan manusia memiliki tangan sebagaimana Alloh juga memiliki tangan, namun tangan Alloh tidak sama dengan ta-ngan manusia. Alloh ta’ala menjadikan manusia memiliki mata sebagaimana Alloh pun memiliki mata, namun hakekat bentuk mata Alloh berbeda dengan bentuk mata makhluq-Nya. Perkataan dalam ha-dits tersebut sama dengan ucapan : “Helicopter diciptakan berdasarkan bentuk capung.” Apakah helicopter sama hakekatnya dengan capung ?!!
Selain Al-Hallaj, tokoh lain yang memunculkan faham “manungga ling kawula – Gusti ” adalah Abu Yazid Al-Busthomi atau Bayazid. Dialah tokoh yang pertama kali mempoplerkan istilah fana’ an-nafs dalam dunia tashowwuf, yaitu keadaan di mana seorang shufi kehilangan kesadaran akan hakekat dirinya. Dalam keadaan demikian –menurut Bayazid- seseo-rang dapat membebaskan dirinya dari alam dunia sehingga dapat mempe roleh jalan kembali ke sumber asalnya. Karena manusia dalam teori Baya-zid dianggap sebagai pancaran dari Nur Ilahi, maka dalam keadaan fana’ ini seorang shufi dapat meraih tajrid fana’ fit-tauhid atau perbaduan de-ngan Alloh tanpa diantarai sesuatu apa pun. Faham ini disebut Ittihad.
Tokoh lainnya yang mengajarkan “manunggaling kawula – Gusti ” adalah Suhrowardi Al-Maqtul yang mempopulerkan fahamnya dengan na ma Al-Isyroq yang merupakan penggabungan filsafat Neo Platoisme de-ngan beberapa ajaran filsafat Persia. Suhrowardi menyatakan bahwa pen ciptaan alam ini terjadi melalui proses penyinaran atau illuminasi. Cahaya dalam alam ini bertingkat-tingkat, yang tertinggi disebut dengan Nurul-An war atau Nurul-A’zhom dan inilah Alloh. Dan manusia diciptakan melalui pancaran cahaya yang berasal dari Nurul-Anwar melalui proses yang ham pir sama dengan teori emanasi Ibnu Sina dan Al-Farobi. Dengan demikian maka manusia bisa kembali lagi ke sumber asalnya, yaitu Alloh atau Nurul Anwar. Kemudian Suhrowardi mengajarkan beberapa ritual dzikir untuk bisa bersatu dengan Alloh, dengan tingkatan-tingkatan sebagai berikut :
Tingkat I : لا إله إلاّ الله ( tidak ada Ilah kecuali Alloh )
Tingkat II : لا هو إلاّ هو ( tidak ada Dia kecuali Dia )
Tingkat III :لا أنت إلاّ أنت ( tidak ada Engkau kecuali Engkau )
Tingkat IV :لا أنا إلاّ أنا ( tidak ada Aku kecuali Aku )
Tingkat V :كلّ شيء هالك إلا وجهه ( Semua pasti binasa kecuali Wajah-Nya )
Di Indonesia tidak sedikit tokoh-tokoh thoreqot yang mengajar-kan faham “ manunggaling kawula – Gusti “, yang paling terkenal di anta ra mereka adalah Syeikh Siti Jenar atau Syeikh Lemah Abang. Para penga-nut ajaran “ manunggaling kawula – Gusti “ ini berdalil dengan hadits :
وَ مَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ , وَ لاَ يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ , فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ وَ بَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ وَ يَدَهُ الَّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا وَ رِجْلَهُ الَّتِيْ يَمْشِيْ بِهَا , وَ لَئِنْ سَأَلَنِيْ لأُعْطِيَنَّهُ وَ لَئِنِ اسْتَعَاذَنِيْ لأُعِيْدَنَّهُ
“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang le bih Aku sukai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya. Selalulah ham ba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan nafilah hing-ga Aku mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, maka Aku adalah pen-dengaran yang ia mendengar dengannya, Aku adalah penglihatan yang ia melihat dengannya, Aku adalah tangan yang ia menyerang dengannya, dan Aku adalah kaki yang ia melangkah dengannya. Bila dia meminta ke-pada-Ku pasti Aku beri, bila ia meminta perlindungan kepada-Ku pasti A-ku lindungi.” [ HR. Al-Bukhori ]
Mereka menafsirkan kata-kata “Aku adalah pendengarannya, penglihatan nya, tangannya dan kakinya ” dengan bersatunya Alloh dengan seorang wali –versi mereka tentunya-. Padahal makna yang benar dari perkataan tersebut adalah sebagaimana disampaikan oleh Imam An-Nawawi rohima hulloh : “… dan berubahlah seluruh gerakan kedua tangan dan kakinya untuk Alloh ta’ala, ia tidak berjalan pada apa yang tidak ada manfa’atnya dan tidak berbuat sesuatu apa pun dengan tangannya hal-hal yang sia-sia, bahkan seluruh gerak dan diamnya hanya untuk Alloh ta’ala.”
Ibnu Daqiqil ‘Ied rohimahulloh berkata : “Dan ma’nanya yaitu dia tidak mau mendengar apa yang tidak diizinkan oleh syara’, tidak mau melihat apa yang tidak diizinkan oleh syara’, tidak mau mengulurkan tangan pada apa yang tidak diizinkan oleh syara’ dan tidak mau berusaha yang kaki-nya pada apa yang tidak diizinkan oleh syara’, inilah asalnya.”
Pendapat serupa juga dikatakan oleh Syaikh ‘Abdul-Qodir Al-Jailani rohi-mahulloh dalam kitab Futuhul-Goib. Bahkan beliau menolak dengan te-gas penafsiran istilah “bersatu dengan Alloh” dengan tafsiran “manungga- ling kawula – Gusti “ , karena penafsiran yang demikian berarti menyama kan Alloh dengan makhluq , padahal Alloh ‘azza wa jalla telah berfirman :
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mende-ngar lagi Maha Melihat.” [ Qs. Asy-Syuro : 11 ]
Sesungguhnya penggunaan kata-kata “ Aku pendengarannya yang ia men-dengar dengannya, ..dst” sama dengan perkataan yang sering pula diguna kan dalam keseharian kita, seperti ucapan : “ Aku sedang membangun ru-mah.” Padahal ketika itu, bisa jadi kita tidak pernah ikut menggarapnya sedikit pun, bahkan mungkin pula kita sama sekali belum pernah melihat bangunan rumah kita yang sedang dibangun tersebut. Meski yang menger jakan pekerjaan membangun rumah adalah para tukang, namun tidak sa-lah bila kita mengatakan bahwa kitalah yang sedang membangunnya, ka-rena para tukang tersebut mengerjakannya sesuai perintah yang kita ke-hendaki. Lain halnya bila para tukang tersebut membuat bangunan di ta- nah kita dengan tanpa perintah dari kita, tentu tidak bisa kita mengata-kan bahwa kitalah yang lagi membangunnya, meskipun tukang yang me-ngerjakannya sama dengan yang menggarap rumah yang pernah kita pe-san. Dengan demikian terbantahlah pendalilan penganut faham “manung-galing kawula – Gusti “ dengan hadits ini. Apalagi dalam hadits tersebut diawali dengan penyebutan Alloh sebagai diri-Nya dan penyebutan ham- ba sebagai yang berupaya mendekatkan diri kepada Alloh, dan diakhiri dengan penyebutan Alloh sebagai diri-Nya dan hamba sebagai yang me-mohon kepada Alloh. Dengan demikian semakin memperjelas bahwa ma’ na yang dikehendaki dari hadits tersebut bukan penyatuan versi penganut
faham “manunggaling kawula – Gusti “, karena penyebutan dua dzat ber-beda yang saling terpisah satu dengan yang lainnya akan memustahilkan memaknainya dengan melebur jadi satu, apalagi Dzat Alloh Maha Besar lebih besar dari total ukuran seluruh makhluq-Nya ! [ ‘Abdulloh A. Darwanto ]
Faham manunggaling kawula – Gusti yang dipopulerkan oleh Hu- sain bin Manshur Al-Hallaj dengan istilah Hulul secara sederhana dapat di definisikan dengan : Tuhan mengambil tempat dalam diri manusia terten-tu setelah manusia tersebut menghilangkan sifat-sifat kemanusiaannya. Ka-rena menurut Al-Hallaj, manusia memiliki dua sifat dasar, yaitu sifat Nasut ( kemanusiaan ) dan sifat Lahut ( ketuhanan ). Demikian pula dengan Tu-han yang juga memiliki kedua sifat tersebut, Lahut dan Nasut. Kesamaan inilah yang memungkinkan terjadinya penyatuan antara manusia dengan Tuhannya. Pendapat sesat ini didasari anggapan bahwa Adam 'alaihis-sa-laam sebagai manusia pertama telah dijadikan oleh Alloh sebagai copy da ri diri-Nya dengan segala sifat dan kebesarannya. Mereka mencari pembe-naran dari hadits :
خَلَقَ اللهُ آدَمَ عَلَى صُوْرَتِهِ
“Alloh telah menciptakan Adam berdasarkan bentuk-Nya.” [ HR. Bukhori ]
Padahal maksud hadits tersebut adalah berdasarkan bentuk-bentuk yang ada pada Alloh sesuai dengan kehendak-Nya yang tentunya berbeda hake katnya. Seperti Alloh menjadikan manusia memiliki tangan sebagaimana Alloh juga memiliki tangan, namun tangan Alloh tidak sama dengan ta-ngan manusia. Alloh ta’ala menjadikan manusia memiliki mata sebagaimana Alloh pun memiliki mata, namun hakekat bentuk mata Alloh berbeda dengan bentuk mata makhluq-Nya. Perkataan dalam ha-dits tersebut sama dengan ucapan : “Helicopter diciptakan berdasarkan bentuk capung.” Apakah helicopter sama hakekatnya dengan capung ?!!
Selain Al-Hallaj, tokoh lain yang memunculkan faham “manungga ling kawula – Gusti ” adalah Abu Yazid Al-Busthomi atau Bayazid. Dialah tokoh yang pertama kali mempoplerkan istilah fana’ an-nafs dalam dunia tashowwuf, yaitu keadaan di mana seorang shufi kehilangan kesadaran akan hakekat dirinya. Dalam keadaan demikian –menurut Bayazid- seseo-rang dapat membebaskan dirinya dari alam dunia sehingga dapat mempe roleh jalan kembali ke sumber asalnya. Karena manusia dalam teori Baya-zid dianggap sebagai pancaran dari Nur Ilahi, maka dalam keadaan fana’ ini seorang shufi dapat meraih tajrid fana’ fit-tauhid atau perbaduan de-ngan Alloh tanpa diantarai sesuatu apa pun. Faham ini disebut Ittihad.
Tokoh lainnya yang mengajarkan “manunggaling kawula – Gusti ” adalah Suhrowardi Al-Maqtul yang mempopulerkan fahamnya dengan na ma Al-Isyroq yang merupakan penggabungan filsafat Neo Platoisme de-ngan beberapa ajaran filsafat Persia. Suhrowardi menyatakan bahwa pen ciptaan alam ini terjadi melalui proses penyinaran atau illuminasi. Cahaya dalam alam ini bertingkat-tingkat, yang tertinggi disebut dengan Nurul-An war atau Nurul-A’zhom dan inilah Alloh. Dan manusia diciptakan melalui pancaran cahaya yang berasal dari Nurul-Anwar melalui proses yang ham pir sama dengan teori emanasi Ibnu Sina dan Al-Farobi. Dengan demikian maka manusia bisa kembali lagi ke sumber asalnya, yaitu Alloh atau Nurul Anwar. Kemudian Suhrowardi mengajarkan beberapa ritual dzikir untuk bisa bersatu dengan Alloh, dengan tingkatan-tingkatan sebagai berikut :
Tingkat I : لا إله إلاّ الله ( tidak ada Ilah kecuali Alloh )
Tingkat II : لا هو إلاّ هو ( tidak ada Dia kecuali Dia )
Tingkat III :لا أنت إلاّ أنت ( tidak ada Engkau kecuali Engkau )
Tingkat IV :لا أنا إلاّ أنا ( tidak ada Aku kecuali Aku )
Tingkat V :كلّ شيء هالك إلا وجهه ( Semua pasti binasa kecuali Wajah-Nya )
Di Indonesia tidak sedikit tokoh-tokoh thoreqot yang mengajar-kan faham “ manunggaling kawula – Gusti “, yang paling terkenal di anta ra mereka adalah Syeikh Siti Jenar atau Syeikh Lemah Abang. Para penga-nut ajaran “ manunggaling kawula – Gusti “ ini berdalil dengan hadits :
وَ مَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ , وَ لاَ يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ , فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ وَ بَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ وَ يَدَهُ الَّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا وَ رِجْلَهُ الَّتِيْ يَمْشِيْ بِهَا , وَ لَئِنْ سَأَلَنِيْ لأُعْطِيَنَّهُ وَ لَئِنِ اسْتَعَاذَنِيْ لأُعِيْدَنَّهُ
“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang le bih Aku sukai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya. Selalulah ham ba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan nafilah hing-ga Aku mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, maka Aku adalah pen-dengaran yang ia mendengar dengannya, Aku adalah penglihatan yang ia melihat dengannya, Aku adalah tangan yang ia menyerang dengannya, dan Aku adalah kaki yang ia melangkah dengannya. Bila dia meminta ke-pada-Ku pasti Aku beri, bila ia meminta perlindungan kepada-Ku pasti A-ku lindungi.” [ HR. Al-Bukhori ]
Mereka menafsirkan kata-kata “Aku adalah pendengarannya, penglihatan nya, tangannya dan kakinya ” dengan bersatunya Alloh dengan seorang wali –versi mereka tentunya-. Padahal makna yang benar dari perkataan tersebut adalah sebagaimana disampaikan oleh Imam An-Nawawi rohima hulloh : “… dan berubahlah seluruh gerakan kedua tangan dan kakinya untuk Alloh ta’ala, ia tidak berjalan pada apa yang tidak ada manfa’atnya dan tidak berbuat sesuatu apa pun dengan tangannya hal-hal yang sia-sia, bahkan seluruh gerak dan diamnya hanya untuk Alloh ta’ala.”
Ibnu Daqiqil ‘Ied rohimahulloh berkata : “Dan ma’nanya yaitu dia tidak mau mendengar apa yang tidak diizinkan oleh syara’, tidak mau melihat apa yang tidak diizinkan oleh syara’, tidak mau mengulurkan tangan pada apa yang tidak diizinkan oleh syara’ dan tidak mau berusaha yang kaki-nya pada apa yang tidak diizinkan oleh syara’, inilah asalnya.”
Pendapat serupa juga dikatakan oleh Syaikh ‘Abdul-Qodir Al-Jailani rohi-mahulloh dalam kitab Futuhul-Goib. Bahkan beliau menolak dengan te-gas penafsiran istilah “bersatu dengan Alloh” dengan tafsiran “manungga- ling kawula – Gusti “ , karena penafsiran yang demikian berarti menyama kan Alloh dengan makhluq , padahal Alloh ‘azza wa jalla telah berfirman :
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mende-ngar lagi Maha Melihat.” [ Qs. Asy-Syuro : 11 ]
Sesungguhnya penggunaan kata-kata “ Aku pendengarannya yang ia men-dengar dengannya, ..dst” sama dengan perkataan yang sering pula diguna kan dalam keseharian kita, seperti ucapan : “ Aku sedang membangun ru-mah.” Padahal ketika itu, bisa jadi kita tidak pernah ikut menggarapnya sedikit pun, bahkan mungkin pula kita sama sekali belum pernah melihat bangunan rumah kita yang sedang dibangun tersebut. Meski yang menger jakan pekerjaan membangun rumah adalah para tukang, namun tidak sa-lah bila kita mengatakan bahwa kitalah yang sedang membangunnya, ka-rena para tukang tersebut mengerjakannya sesuai perintah yang kita ke-hendaki. Lain halnya bila para tukang tersebut membuat bangunan di ta- nah kita dengan tanpa perintah dari kita, tentu tidak bisa kita mengata-kan bahwa kitalah yang lagi membangunnya, meskipun tukang yang me-ngerjakannya sama dengan yang menggarap rumah yang pernah kita pe-san. Dengan demikian terbantahlah pendalilan penganut faham “manung-galing kawula – Gusti “ dengan hadits ini. Apalagi dalam hadits tersebut diawali dengan penyebutan Alloh sebagai diri-Nya dan penyebutan ham- ba sebagai yang berupaya mendekatkan diri kepada Alloh, dan diakhiri dengan penyebutan Alloh sebagai diri-Nya dan hamba sebagai yang me-mohon kepada Alloh. Dengan demikian semakin memperjelas bahwa ma’ na yang dikehendaki dari hadits tersebut bukan penyatuan versi penganut
faham “manunggaling kawula – Gusti “, karena penyebutan dua dzat ber-beda yang saling terpisah satu dengan yang lainnya akan memustahilkan memaknainya dengan melebur jadi satu, apalagi Dzat Alloh Maha Besar lebih besar dari total ukuran seluruh makhluq-Nya ! [ ‘Abdulloh A. Darwanto ]
Kamis, 2008 Juli 03
DINAMISME
K E P E R C A Y A A N K E P A D A B E N D A – B E N D A K E R A M A T
Dinamisme berasal dari kata dinamo yang berarti “kekuatan”. Sehingga faham dinamisme itu adalah kepercayaan akan benda-benda yang memiliki kekuatan gaib atau kesaktian. Kepercayaan macam ini disebut pula dengan Fethisme.
Sebagian penganut Dinamisme ada yang mengkeramatkan senja ta, seperti : keris, kujang, tombak, panah, pedang dan sebagainya. Senja-ta-senjata keramat atau yang memiliki kesaktian itu mereka sebut de-ngan istilah pusaka. Mereka memujanya dengan memberikan sesajen se tiap hari tertentu dan memandikannya dengan ritual khusus yang mere-ka sebut dengan jamas. Ini adalah murni ajaran dinamisme yang ternya-ta masih banyak dilakukan oleh tidak sedikit dari kaum muslimin. Bah-kan Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam mengkategorikan perbuatan semacam itu dengan perbuatan membuat ”tuhan” selain Alloh, sebagai-mana tersebut dalam hadits Abu Waqid Al-Laitsi rodhiyallohu ’anhu :
خَرَجْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم إِلَى حُنَيْنَ وَ نَحْنُ حُدَثَاءُ عَهْدٍ بِكُفْرٍ . وَ لِلْمُشْرِكِيْنَ سِدْرَةٌ يَعْكِفُوْنَ عِنْدَهَا وَ يَنُوْطُوْنَ بِهَا أَسْلِحَتَهُمْ , يُقَالُ لَهَا : ذَاتُ أَنْوَاطٍ . فَمَرَرْنَا بِسِدْرَةٍ , فَقُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ . فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : اللهُ أَكْبَرُ ! إِنَّهَا السُّنَنُ ! قُلْتُمْ وَ الَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ كَمَا قَالَتْ بَنُوْ إِسْرَائِيْلَ لِمُوْسَى : [ اجْعَلْ لَنَا آلِهَةً كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ , قَالَ : إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ ] , لَتَرْكَبُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ
”Kami bersama Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam sedang menuju lembah Hunain, ketika itu kami dalam keadaan baru keluar dari kekafi-ran. Sementara itu kaum musyrikin memiliki sebuah pohon yang mere-ka biasa bertapa di sisinya dan menggantungkan senjata-senjata mereka padanya, pohon itu disebut Dzatu Anwath. Ketika kami melewati po-hon itu, kami berkata : ” Ya Rosululloh, buatkan untuk kami Dzatu An-wath sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath !” Maka Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda : ” Allohu Akbar ! Ini adalah sunnah ( perilaku umat sebelum kalian ) ! Kalian telah berkata - dan Demi Yang jiwaku dalam genggaman tangan-Nya - sebagaimana yang dikatakan oleh Bani Isroil kepada Musa : [ ”Buatkanlah kami tuhan-tuhan lain yang disembah sebagaimana mereka memiliki tuhan-tuhan lain yang disem-bah !” Musa menjawab : ”Sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang bodoh !” ] – Qs. Al-A’rof : 138 - Sungguh kalian pasti akan melaku- kan sunnah ( perilaku ) orang-orang sebelum kalian !”
[ HSR. At-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Jarir, Ath-Thobari dalam Al-Kabir ]
Perhatikanlah, bagaimana Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam menya-makan perbuatan membuat pohon tempat pengampuhan senjata de-ngan perbuatan membuat tuhan-tuhan yang disembah selain Alloh !
Ada pula sebagian kaum dinamisme yang mengkeramatkan ben- da-benda tertentu seperti : batu akik, taring harimau dan hiu, ekor cecak atau kadal yang cawang, bambu pethuk, tali roma, cula badak, gading gajah, susuk dan sebagainya yang diyakini memiliki kesaktian dan ke-ampuhan. Mereka biasa menyebut benda-benda tersebut dengan istilah jimat. Ada yang digunakan untuk menambah kekuatan, tolak bala’, me-nambah pesona, menjadikan berwibawa, kebal dan lain sebagainya. Se-mua bentuk pemujaan terhadap jimat tersebut ternyata dilakukan pula oleh banyak dari kaum muslimin hingga sekarang. Padahal Rosululloh sholallohu 'alaihi wa sallam telah bersabda :
مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ
”Barangsiapa yang menggantungkan jimat, maka sungguh ia telah ber-buat syirik.” [ HSR. Ahmad dan Al-Hakim ]
Ada pun hadits-hadits yang bertutur tentang batu akik dan khasiatnya, maka semuanya dho’if ( lemah ) bahkan maudhu’ ( palsu ) sebagaimana telah diterangkan oleh seluruh ‘ulama ahli hadits.
Ada sebagian kaum muslimin yang membuat jimat dari kain dan sejenisnya yang ditulisi angka-angka dan huruf-huruf hijaiyyah yang ke mudian dikenal dengan nama rajah. Terkadang rajah ini memuat bebera pa ayat Al-Qur’an. Bahkan ada yang dengan sengaja memakai Mushhaf Al-Qur’an mini yang biasa mereka sebut dengan Qur’an Istambul untuk dijadikan jimatnya. Semuanya termasuk karakter dan perilaku kaum musyrikin dinamisme. Ada pun riwayat bahwa ‘Abdulloh bin Amr bin Al-‘Ash rodhiyallohu ‘anhuma membolehkan memakai ayat-ayat Al-Qur-‘an sebagai jimat adalah riwayat yang dho’if ( lemah ). Andai riwayat ter sebut shohih, itu pun tidak bisa dijadikan dalil akan kebolehan memakai ayat-ayat Al-Qur’an sebagai jimat, karena beliau menuliskan beberapa ayat Al-Qur’an di tangan anaknya bukan sebagai jimat, namun sebagai bahan hafalan yang mesti dihafalkan oleh anaknya.
Ada sebagian da’i sesat yang membolehkan memakai jimat de-ngan catatan bahwa pemakainya harus meyakini bahwa kekuatan da-lam jimat atau pusaka itu datangnya dari Alloh ta’ala. Inilah yang dise-but oleh Al-Qur’an dengan istilah talbis ( pencampuradukkan ) antara kebenaran dengan kebatilan dengan tujuan untuk mengkaburkan kebati lan yang ada di dalamnya, sehingga banyak orang terpedaya dan akhir-nya bersedia menerima kebatilan tersebut. Alloh ta’ala berfirman :
وَ لاَ تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَ تَكْتُمُوا الْحَقَّ وَ أَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
“Janganlah kalian talbis ( mencampur-aduk )-kan kebenaran dengan ke- batilan, dan jangan pula menyembunyikan kebenaran padahal kalian mengetahuinya !” [ Qs. Al-Baqoroh : 42 ]
Kebatilan tidak akan berubah menjadi kebenaran meskipun dihiasi de-ngan sekian banyak kebaikan, sebagaimana sebotol nila tidak akan beru- bah menjadi susu sekalipun telah dicampurkan ke dalamnya segalon su-su murni !!!
Memang semua kekuatan itu datangnya dari Alloh ta’ala, namun keyakinan semacam itu tidak kemudian secara otomatis menjadikan pe-rilaku syirik dinamisme berubah menjadi boleh. Karena memang segala da ya dan kekuatan di alam ini datangnya hanya dari sisi Alloh. Bahkan ke-mampuan syetan menyesatkan manusia pun juga datangnya dari sisi Alloh ta’ala.
Kejadian dan hal-hal yang luar biasa di dunia ini terbagi menjadi tiga macam, yaitu : Mu’jizat, Karomah dan Istidroj. Bila suatu hal yang luar biasa muncul dari seorang Nabi atau Rosul maka yang demikian di- sebut Mu’jizat. Bila hal yang luar biasa ini muncul dari seorang yang sholih yang amalannya sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam yang shohih maka disebut de-ngan Karomah. Sedangkan bila hal yang luar biasa ini muncul dari syetan atau lewat bantuan syetan maka ini disebut Istidroj. Ciri Mu’jizat dan Karomah adalah ia diperoleh tidak melalui proses latihan, bertapa ataupun karena merapal sesuatu mantra, namun ia muncul begitu saja ketika mereka membutuhkannya sebagai bantuan dan kemuliaan dari si si Alloh ta’ala. Sedangkan ciri istidroj yaitu biasanya diperoleh dengan ja lan latihan khusus, bertapa, merapal mantra tertentu, bergantung kepa- da benda-benda tertentu dan hal-hal lain yang bisa kita saksikan pada perilaku kaum animisme dan dinamisme. Berkata Imam Abu Hanifah rohimahulloh dalam Al-Fiqh Al-Akbar : ”Yang demikian karena Alloh ta- ’ala hendak mengabulkan hajat musuh-musuhnya sebagai istidroj ( tipu- an ) dan hukuman bagi mereka, hingga mereka terlena dan bertambah- lah tingkah mereka yang melampaui batas dan kekufurannya.”
Benda-benda pusaka, jimat atau pun rajah sesungguhnya benda mati yang dibuat oleh manusia, lalu dipuja dan dikeramatkan oleh ma-nusia. Tingkah polah mereka sama seperti para pemuja berhala, karena berhala-berhala yang mereka puja sebenarnya buatan mereka sendiri. Hanya saja terkadang jin syetan manjing ( merasuk ) dalam benda-ben-da yang dikeramatkan tersebut sehingga dianggap punya daya magis. Padahal jin syetan itulah yang sebenarnya berulah.
[ ’Abdulloh A. Darwanto ]
Dinamisme berasal dari kata dinamo yang berarti “kekuatan”. Sehingga faham dinamisme itu adalah kepercayaan akan benda-benda yang memiliki kekuatan gaib atau kesaktian. Kepercayaan macam ini disebut pula dengan Fethisme.
Sebagian penganut Dinamisme ada yang mengkeramatkan senja ta, seperti : keris, kujang, tombak, panah, pedang dan sebagainya. Senja-ta-senjata keramat atau yang memiliki kesaktian itu mereka sebut de-ngan istilah pusaka. Mereka memujanya dengan memberikan sesajen se tiap hari tertentu dan memandikannya dengan ritual khusus yang mere-ka sebut dengan jamas. Ini adalah murni ajaran dinamisme yang ternya-ta masih banyak dilakukan oleh tidak sedikit dari kaum muslimin. Bah-kan Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam mengkategorikan perbuatan semacam itu dengan perbuatan membuat ”tuhan” selain Alloh, sebagai-mana tersebut dalam hadits Abu Waqid Al-Laitsi rodhiyallohu ’anhu :
خَرَجْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم إِلَى حُنَيْنَ وَ نَحْنُ حُدَثَاءُ عَهْدٍ بِكُفْرٍ . وَ لِلْمُشْرِكِيْنَ سِدْرَةٌ يَعْكِفُوْنَ عِنْدَهَا وَ يَنُوْطُوْنَ بِهَا أَسْلِحَتَهُمْ , يُقَالُ لَهَا : ذَاتُ أَنْوَاطٍ . فَمَرَرْنَا بِسِدْرَةٍ , فَقُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ . فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : اللهُ أَكْبَرُ ! إِنَّهَا السُّنَنُ ! قُلْتُمْ وَ الَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ كَمَا قَالَتْ بَنُوْ إِسْرَائِيْلَ لِمُوْسَى : [ اجْعَلْ لَنَا آلِهَةً كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ , قَالَ : إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ ] , لَتَرْكَبُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ
”Kami bersama Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam sedang menuju lembah Hunain, ketika itu kami dalam keadaan baru keluar dari kekafi-ran. Sementara itu kaum musyrikin memiliki sebuah pohon yang mere-ka biasa bertapa di sisinya dan menggantungkan senjata-senjata mereka padanya, pohon itu disebut Dzatu Anwath. Ketika kami melewati po-hon itu, kami berkata : ” Ya Rosululloh, buatkan untuk kami Dzatu An-wath sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath !” Maka Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda : ” Allohu Akbar ! Ini adalah sunnah ( perilaku umat sebelum kalian ) ! Kalian telah berkata - dan Demi Yang jiwaku dalam genggaman tangan-Nya - sebagaimana yang dikatakan oleh Bani Isroil kepada Musa : [ ”Buatkanlah kami tuhan-tuhan lain yang disembah sebagaimana mereka memiliki tuhan-tuhan lain yang disem-bah !” Musa menjawab : ”Sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang bodoh !” ] – Qs. Al-A’rof : 138 - Sungguh kalian pasti akan melaku- kan sunnah ( perilaku ) orang-orang sebelum kalian !”
[ HSR. At-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Jarir, Ath-Thobari dalam Al-Kabir ]
Perhatikanlah, bagaimana Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam menya-makan perbuatan membuat pohon tempat pengampuhan senjata de-ngan perbuatan membuat tuhan-tuhan yang disembah selain Alloh !
Ada pula sebagian kaum dinamisme yang mengkeramatkan ben- da-benda tertentu seperti : batu akik, taring harimau dan hiu, ekor cecak atau kadal yang cawang, bambu pethuk, tali roma, cula badak, gading gajah, susuk dan sebagainya yang diyakini memiliki kesaktian dan ke-ampuhan. Mereka biasa menyebut benda-benda tersebut dengan istilah jimat. Ada yang digunakan untuk menambah kekuatan, tolak bala’, me-nambah pesona, menjadikan berwibawa, kebal dan lain sebagainya. Se-mua bentuk pemujaan terhadap jimat tersebut ternyata dilakukan pula oleh banyak dari kaum muslimin hingga sekarang. Padahal Rosululloh sholallohu 'alaihi wa sallam telah bersabda :
مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ
”Barangsiapa yang menggantungkan jimat, maka sungguh ia telah ber-buat syirik.” [ HSR. Ahmad dan Al-Hakim ]
Ada pun hadits-hadits yang bertutur tentang batu akik dan khasiatnya, maka semuanya dho’if ( lemah ) bahkan maudhu’ ( palsu ) sebagaimana telah diterangkan oleh seluruh ‘ulama ahli hadits.
Ada sebagian kaum muslimin yang membuat jimat dari kain dan sejenisnya yang ditulisi angka-angka dan huruf-huruf hijaiyyah yang ke mudian dikenal dengan nama rajah. Terkadang rajah ini memuat bebera pa ayat Al-Qur’an. Bahkan ada yang dengan sengaja memakai Mushhaf Al-Qur’an mini yang biasa mereka sebut dengan Qur’an Istambul untuk dijadikan jimatnya. Semuanya termasuk karakter dan perilaku kaum musyrikin dinamisme. Ada pun riwayat bahwa ‘Abdulloh bin Amr bin Al-‘Ash rodhiyallohu ‘anhuma membolehkan memakai ayat-ayat Al-Qur-‘an sebagai jimat adalah riwayat yang dho’if ( lemah ). Andai riwayat ter sebut shohih, itu pun tidak bisa dijadikan dalil akan kebolehan memakai ayat-ayat Al-Qur’an sebagai jimat, karena beliau menuliskan beberapa ayat Al-Qur’an di tangan anaknya bukan sebagai jimat, namun sebagai bahan hafalan yang mesti dihafalkan oleh anaknya.
Ada sebagian da’i sesat yang membolehkan memakai jimat de-ngan catatan bahwa pemakainya harus meyakini bahwa kekuatan da-lam jimat atau pusaka itu datangnya dari Alloh ta’ala. Inilah yang dise-but oleh Al-Qur’an dengan istilah talbis ( pencampuradukkan ) antara kebenaran dengan kebatilan dengan tujuan untuk mengkaburkan kebati lan yang ada di dalamnya, sehingga banyak orang terpedaya dan akhir-nya bersedia menerima kebatilan tersebut. Alloh ta’ala berfirman :
وَ لاَ تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَ تَكْتُمُوا الْحَقَّ وَ أَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
“Janganlah kalian talbis ( mencampur-aduk )-kan kebenaran dengan ke- batilan, dan jangan pula menyembunyikan kebenaran padahal kalian mengetahuinya !” [ Qs. Al-Baqoroh : 42 ]
Kebatilan tidak akan berubah menjadi kebenaran meskipun dihiasi de-ngan sekian banyak kebaikan, sebagaimana sebotol nila tidak akan beru- bah menjadi susu sekalipun telah dicampurkan ke dalamnya segalon su-su murni !!!
Memang semua kekuatan itu datangnya dari Alloh ta’ala, namun keyakinan semacam itu tidak kemudian secara otomatis menjadikan pe-rilaku syirik dinamisme berubah menjadi boleh. Karena memang segala da ya dan kekuatan di alam ini datangnya hanya dari sisi Alloh. Bahkan ke-mampuan syetan menyesatkan manusia pun juga datangnya dari sisi Alloh ta’ala.
Kejadian dan hal-hal yang luar biasa di dunia ini terbagi menjadi tiga macam, yaitu : Mu’jizat, Karomah dan Istidroj. Bila suatu hal yang luar biasa muncul dari seorang Nabi atau Rosul maka yang demikian di- sebut Mu’jizat. Bila hal yang luar biasa ini muncul dari seorang yang sholih yang amalannya sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam yang shohih maka disebut de-ngan Karomah. Sedangkan bila hal yang luar biasa ini muncul dari syetan atau lewat bantuan syetan maka ini disebut Istidroj. Ciri Mu’jizat dan Karomah adalah ia diperoleh tidak melalui proses latihan, bertapa ataupun karena merapal sesuatu mantra, namun ia muncul begitu saja ketika mereka membutuhkannya sebagai bantuan dan kemuliaan dari si si Alloh ta’ala. Sedangkan ciri istidroj yaitu biasanya diperoleh dengan ja lan latihan khusus, bertapa, merapal mantra tertentu, bergantung kepa- da benda-benda tertentu dan hal-hal lain yang bisa kita saksikan pada perilaku kaum animisme dan dinamisme. Berkata Imam Abu Hanifah rohimahulloh dalam Al-Fiqh Al-Akbar : ”Yang demikian karena Alloh ta- ’ala hendak mengabulkan hajat musuh-musuhnya sebagai istidroj ( tipu- an ) dan hukuman bagi mereka, hingga mereka terlena dan bertambah- lah tingkah mereka yang melampaui batas dan kekufurannya.”
Benda-benda pusaka, jimat atau pun rajah sesungguhnya benda mati yang dibuat oleh manusia, lalu dipuja dan dikeramatkan oleh ma-nusia. Tingkah polah mereka sama seperti para pemuja berhala, karena berhala-berhala yang mereka puja sebenarnya buatan mereka sendiri. Hanya saja terkadang jin syetan manjing ( merasuk ) dalam benda-ben-da yang dikeramatkan tersebut sehingga dianggap punya daya magis. Padahal jin syetan itulah yang sebenarnya berulah.
[ ’Abdulloh A. Darwanto ]
Sabtu, 2008 April 19
JANGAN MARAH
Bapak-bapak ibu-ibu pendengar yang semoga dirahmati Alloh, pada kesempatan yang mulia ini kami akan menyampaikan solusi masalah keluarga,
Bahwasannya seorang mi'min tidakboleh membenci mu'minah ( istrinya ) sebab dia mendapatkan satu sifat dari sifat-sifat yang tidak ia sukai, karena manusia tidak ada yang sempurna apalagi wanita yang tercipta dari tulang yang bengkok, dibiarkan bengkok diluruskan patah.
Tidak layak bagi laki-laki untuk membenci istrinya karena menemui suatu sifat yang ada pada istrinya karena menemui suatu sifat yang ada pada istrinya yang tidak ia sukai, contohnya :
Seseorang punya istri yang cantik jelita, lisannya bagus/ perkataannya bagus tapi punya sifat boros maka ketika ia punya sifat boros ini kemudian jangan langsung berkata, saya ceraikan kamu karena kamu tidak mau hidup sederhana bersama saya walaupun kamu cantik dan perkataannya manis, maka sifat semacam ini tidak boleh membawa seseorang pada perceraian atau membenci seorang istri. Hendaklah diluruskan dan diluruskan.
Perintah Rosululloh.
وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا إِسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَبِهَا عَوْجُذْ
Apabila kamu bersenang-senang dengan wanita, kamu bisa bersenang-senang akan tetapi wanita akan tetap ada sifat kebengkokannya
Jadi bapak-bapak harus lebih sabar untuk menanggapi wanita. Memang wanita menyebalkan dan menyusahkan tapi juga menyenangkan.
Rosululloh menyuruh :
فََالْتَرِهَا تَعِشْهَا
Maka rayulah wanita itu agar kamu bisa hidup.
Kalo kita ga' pinter ngrayu istri kita akan berantakan terus.
Kita kaum laki-laki akan mendapatkan istri biasanya banyak kekurangan-kekurangannya. Walaupun sudah cantik jelita omongannya bagus mau hidup sederhana tapi disuruh masak sayur kangkung aja ke asinan, itu menunjukan kekurang dia, maka gara-gara kangkung sayurnya asin jangan langsung kemudian marah-marah dan membencinya.
KEMARAHAN DIDALAM RUMAH TANGGA
Coba diantara yang selama ini berkeluarga belum terjadi kemarahan, ? bahkan ada yang sampai seminggu, ada yang tiga hari diam-diamansampai anaknya pada bingung.
Ini mesti terjadi dikalangan rumah tangga, padaumumnya demikian, pada umumnya orang yang berumah tangga tidak lepas dari kemarahan.
Ini kembali kepada tipe keduanya ( suami-istri ) tersebut, apakah dia seorang yang beriman yang ketika marah langsung bisa mencabut kemarahannya, atau kemudian marah terus dsb, na'udzubillah min dzalik.
Dan ini bukan mustahil dan banyak kejadiannya.
BAGAIMANA KITA MENANGGULANGI KEMARAHAN INI.
Pada umumnya rumah tangga tidak lepas dari kemarahan dan percekcokan antara suami –istri.
حَتَّى بُيُوْتَ أَهْلُ الْفَضْلِ
Sampaipun rumahnya orang yang punya keutamaan yang baik sekali, itupun tetap terjadi kemarahan dalamrumah tangga.
Bahwasanya terjadinya percekcokan dan kemarahan ini adalah api yang di nyalakan oleh para syaithon dan bala tentaranya untuk memporak porandakan orang yang berkeluarga. Jadi sifat marah yang timbul dari kita ini, ditunggangi oleh para syaithon. Apalagi orangyang sudah ta'limsampai marah-marah, syaithinmenari-nari, orang yang begini saja bisa berantakan rumah tangganya . hinggakitaharus ingat jika terjadi kemarahan sampai demikianitu hendaklah segera minta perlindungan kepada Alloh dari syaithon segera.!
Jangan dibikin awet kemarahannya seperti es yang disimpan didalam kulkas, untuk awet-awetan. Bahwa syaithon senang jika melihat orang-orang beriman marah-marahan, segera kitaharus patahkan / buang segera tipu daya syaithon.
ِإنَّ كَيْدَالشَّيْطَانِ كَاَن ضَعِيْفًا
Sesungguhnya tipu daya syaithon sangat lemah. Tapi kalau kita tidak mau mempelajari agama ini didalam berkeluarga,sehingga hal seperti ini sangat penting tapi kebanyakan kita tidak mengetahui.
فهاذا الصديق أبوا بكر رَضِيَ الله عَنْهُ
Dan ini abu bakar ash shidiq beliau afdholul ummah ba'da rosulillah, al kholifatul ula,sampai dijuluki asshiddiq. Itupun pernah terjadi kemarahanpada dia, ketikaitu marah kepada tamunya dan sama keluarganya.
لَمَّ أَرْسَلَ الضِيَافَ إِلَى بَيْتِهِ مَعَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ وَلَدِهِ
Ketika abu bakar menyuruhtamunya kerumahnya bersama anaknya, akan tetapi tamunya belum mau makan sebelum abu bakar datang. Datanglah abu bakar danmelihatmereka belum makan, maka abbu bakar marah kepada istrinya, anaknya dan tamunya, dan sampai mencelanya dan bersumpah tidak akan makan, maka tamunya juga marah, tidak akan makan sampai abu bakar makan, istrinya juga bersumpah tidak akan makan sampai abu bakar makan. Didalam kemarahan yang begitu dahsyatnya, langsung ketika abu bakar teringat bahwasannya perbuatan ini adalah perbuatan syaithon, langsung abu bakar mencabut kemarahannya dan menyebut nama Alloh dan meminta pertolongan kepada Alloh, menghilangkan kemarahan itu.
Alloh menyatakan dalam surat al a'rof ayat 201
•
201. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.
Tapi ternyata hanya orang-orang yang bertakwa, sehingga orang-orang keluarga- keluarga yang tidak mengerti agama, ketika terjadi kemarahan tersebut sampai berlarut-larut, ada yang seperti orang yang memukuli pencuri, sampai babak belur istrinya.
Kalo kita tidak bertakwa susah untuk mengingat kalau ini adalah perbuatan syaithon. Jadi perbuatan syaithon jangan di pelihara, segera hapus tipu daya syaithon itu .
Ketika abu bakar marah kepada keluarga dan tamunya, segera mencabut kemarahannya, karena beliau mengetahui ini semua adalah perbuatan syaithon.
Dan ini ali Rodhiallohu 'anhu
Siapa belia ini, amiirul mu'minin,yuhibbullohawarosulah, wayuhibbuhullohu wa rosuluh, beliau kholifahyang ke empat, punya keutamaan yang besar, sehingga perang pada perang khoibar Allohmemenangkankaum mu'minin lewat tangannya
Rosululloh menyatakan :
لأتين غدا رجلا يحب الله ورسوله ويحبه الله ورسوله ويفتح الله على يديه
Ketika mulai pagi para shohabat pergi berbondong-bondong kepada Rosululloh berharap mendapatkan bendera, ketika itu ali sedang sakit mata, kemudiandidatangkan ali kepadaRosululloh danRosulullohmeludah kepadamata Ali, maka langsung sembuh dengan ijin Alloh.
Ini ludah Rosululloh, kalau ludahnya mbah dukunyang ngga pernah gosok gigi malah tambah sakit.
Ketikaitu marah kepada istrinya ( sayyidah fathimahbinti rosululloh ), ini Ali apa lagi kita. Ketika Ali marah kepada istrinya beliau keluarrumah teus pergi ke masjid dan tidur di masjid, kemudian didatangi oleh rosululloh SAW sedangpunggungnya penuh dengan debu kemudian rosululloh membersihkan debu di pundak nya dan mengatakan ijlis ya aba turob, maka langsung selesai masalanya.
Maka dari itu kitaapabila terjadi masalah antarasuami danistri maka wajiob bagi keduanya untuk segera saling mengerti apa sebab terjadi nya kemarahan, dan segera minta perlindungan kepada Alloh dari godaan syaithon dan juga segera mengadakan perbaikan, jangan malah ayo awet-awetan berani berapa hari. Dan segera menutup pintu jalanya syaithon menuju kemarahan, dan pergi berwudhu kemudiansholat dua roka'atmaka akan timbul kebahagiaanbaru dan timbul kedamaian
Jika marah sambil berdiri maka segeralah duduk.
Rosululloh sholallohu 'alaihi wasalam bersabda :
إذا غضب أحدكم فاليجلس
Karena kalau marah sambil duduk mudhorotnya lebih kecil ketimbang marah sambil berdiri, jika masih marah maka segeralah berbaring dan seterusnya.
Nah inilah tata cara yang di contohkan oleh Rosululloh dan para shohabat dalam menyelesaikan permasalahan keluarga.
Semoga dapatbermanfa'at wallohu a'lamu bishowab
Wasalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh.
abu nabila
Bahwasannya seorang mi'min tidakboleh membenci mu'minah ( istrinya ) sebab dia mendapatkan satu sifat dari sifat-sifat yang tidak ia sukai, karena manusia tidak ada yang sempurna apalagi wanita yang tercipta dari tulang yang bengkok, dibiarkan bengkok diluruskan patah.
Tidak layak bagi laki-laki untuk membenci istrinya karena menemui suatu sifat yang ada pada istrinya karena menemui suatu sifat yang ada pada istrinya yang tidak ia sukai, contohnya :
Seseorang punya istri yang cantik jelita, lisannya bagus/ perkataannya bagus tapi punya sifat boros maka ketika ia punya sifat boros ini kemudian jangan langsung berkata, saya ceraikan kamu karena kamu tidak mau hidup sederhana bersama saya walaupun kamu cantik dan perkataannya manis, maka sifat semacam ini tidak boleh membawa seseorang pada perceraian atau membenci seorang istri. Hendaklah diluruskan dan diluruskan.
Perintah Rosululloh.
وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا إِسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَبِهَا عَوْجُذْ
Apabila kamu bersenang-senang dengan wanita, kamu bisa bersenang-senang akan tetapi wanita akan tetap ada sifat kebengkokannya
Jadi bapak-bapak harus lebih sabar untuk menanggapi wanita. Memang wanita menyebalkan dan menyusahkan tapi juga menyenangkan.
Rosululloh menyuruh :
فََالْتَرِهَا تَعِشْهَا
Maka rayulah wanita itu agar kamu bisa hidup.
Kalo kita ga' pinter ngrayu istri kita akan berantakan terus.
Kita kaum laki-laki akan mendapatkan istri biasanya banyak kekurangan-kekurangannya. Walaupun sudah cantik jelita omongannya bagus mau hidup sederhana tapi disuruh masak sayur kangkung aja ke asinan, itu menunjukan kekurang dia, maka gara-gara kangkung sayurnya asin jangan langsung kemudian marah-marah dan membencinya.
KEMARAHAN DIDALAM RUMAH TANGGA
Coba diantara yang selama ini berkeluarga belum terjadi kemarahan, ? bahkan ada yang sampai seminggu, ada yang tiga hari diam-diamansampai anaknya pada bingung.
Ini mesti terjadi dikalangan rumah tangga, padaumumnya demikian, pada umumnya orang yang berumah tangga tidak lepas dari kemarahan.
Ini kembali kepada tipe keduanya ( suami-istri ) tersebut, apakah dia seorang yang beriman yang ketika marah langsung bisa mencabut kemarahannya, atau kemudian marah terus dsb, na'udzubillah min dzalik.
Dan ini bukan mustahil dan banyak kejadiannya.
BAGAIMANA KITA MENANGGULANGI KEMARAHAN INI.
Pada umumnya rumah tangga tidak lepas dari kemarahan dan percekcokan antara suami –istri.
حَتَّى بُيُوْتَ أَهْلُ الْفَضْلِ
Sampaipun rumahnya orang yang punya keutamaan yang baik sekali, itupun tetap terjadi kemarahan dalamrumah tangga.
Bahwasanya terjadinya percekcokan dan kemarahan ini adalah api yang di nyalakan oleh para syaithon dan bala tentaranya untuk memporak porandakan orang yang berkeluarga. Jadi sifat marah yang timbul dari kita ini, ditunggangi oleh para syaithon. Apalagi orangyang sudah ta'limsampai marah-marah, syaithinmenari-nari, orang yang begini saja bisa berantakan rumah tangganya . hinggakitaharus ingat jika terjadi kemarahan sampai demikianitu hendaklah segera minta perlindungan kepada Alloh dari syaithon segera.!
Jangan dibikin awet kemarahannya seperti es yang disimpan didalam kulkas, untuk awet-awetan. Bahwa syaithon senang jika melihat orang-orang beriman marah-marahan, segera kitaharus patahkan / buang segera tipu daya syaithon.
ِإنَّ كَيْدَالشَّيْطَانِ كَاَن ضَعِيْفًا
Sesungguhnya tipu daya syaithon sangat lemah. Tapi kalau kita tidak mau mempelajari agama ini didalam berkeluarga,sehingga hal seperti ini sangat penting tapi kebanyakan kita tidak mengetahui.
فهاذا الصديق أبوا بكر رَضِيَ الله عَنْهُ
Dan ini abu bakar ash shidiq beliau afdholul ummah ba'da rosulillah, al kholifatul ula,sampai dijuluki asshiddiq. Itupun pernah terjadi kemarahanpada dia, ketikaitu marah kepada tamunya dan sama keluarganya.
لَمَّ أَرْسَلَ الضِيَافَ إِلَى بَيْتِهِ مَعَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ وَلَدِهِ
Ketika abu bakar menyuruhtamunya kerumahnya bersama anaknya, akan tetapi tamunya belum mau makan sebelum abu bakar datang. Datanglah abu bakar danmelihatmereka belum makan, maka abbu bakar marah kepada istrinya, anaknya dan tamunya, dan sampai mencelanya dan bersumpah tidak akan makan, maka tamunya juga marah, tidak akan makan sampai abu bakar makan, istrinya juga bersumpah tidak akan makan sampai abu bakar makan. Didalam kemarahan yang begitu dahsyatnya, langsung ketika abu bakar teringat bahwasannya perbuatan ini adalah perbuatan syaithon, langsung abu bakar mencabut kemarahannya dan menyebut nama Alloh dan meminta pertolongan kepada Alloh, menghilangkan kemarahan itu.
Alloh menyatakan dalam surat al a'rof ayat 201
•
201. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.
Tapi ternyata hanya orang-orang yang bertakwa, sehingga orang-orang keluarga- keluarga yang tidak mengerti agama, ketika terjadi kemarahan tersebut sampai berlarut-larut, ada yang seperti orang yang memukuli pencuri, sampai babak belur istrinya.
Kalo kita tidak bertakwa susah untuk mengingat kalau ini adalah perbuatan syaithon. Jadi perbuatan syaithon jangan di pelihara, segera hapus tipu daya syaithon itu .
Ketika abu bakar marah kepada keluarga dan tamunya, segera mencabut kemarahannya, karena beliau mengetahui ini semua adalah perbuatan syaithon.
Dan ini ali Rodhiallohu 'anhu
Siapa belia ini, amiirul mu'minin,yuhibbullohawarosulah, wayuhibbuhullohu wa rosuluh, beliau kholifahyang ke empat, punya keutamaan yang besar, sehingga perang pada perang khoibar Allohmemenangkankaum mu'minin lewat tangannya
Rosululloh menyatakan :
لأتين غدا رجلا يحب الله ورسوله ويحبه الله ورسوله ويفتح الله على يديه
Ketika mulai pagi para shohabat pergi berbondong-bondong kepada Rosululloh berharap mendapatkan bendera, ketika itu ali sedang sakit mata, kemudiandidatangkan ali kepadaRosululloh danRosulullohmeludah kepadamata Ali, maka langsung sembuh dengan ijin Alloh.
Ini ludah Rosululloh, kalau ludahnya mbah dukunyang ngga pernah gosok gigi malah tambah sakit.
Ketikaitu marah kepada istrinya ( sayyidah fathimahbinti rosululloh ), ini Ali apa lagi kita. Ketika Ali marah kepada istrinya beliau keluarrumah teus pergi ke masjid dan tidur di masjid, kemudian didatangi oleh rosululloh SAW sedangpunggungnya penuh dengan debu kemudian rosululloh membersihkan debu di pundak nya dan mengatakan ijlis ya aba turob, maka langsung selesai masalanya.
Maka dari itu kitaapabila terjadi masalah antarasuami danistri maka wajiob bagi keduanya untuk segera saling mengerti apa sebab terjadi nya kemarahan, dan segera minta perlindungan kepada Alloh dari godaan syaithon dan juga segera mengadakan perbaikan, jangan malah ayo awet-awetan berani berapa hari. Dan segera menutup pintu jalanya syaithon menuju kemarahan, dan pergi berwudhu kemudiansholat dua roka'atmaka akan timbul kebahagiaanbaru dan timbul kedamaian
Jika marah sambil berdiri maka segeralah duduk.
Rosululloh sholallohu 'alaihi wasalam bersabda :
إذا غضب أحدكم فاليجلس
Karena kalau marah sambil duduk mudhorotnya lebih kecil ketimbang marah sambil berdiri, jika masih marah maka segeralah berbaring dan seterusnya.
Nah inilah tata cara yang di contohkan oleh Rosululloh dan para shohabat dalam menyelesaikan permasalahan keluarga.
Semoga dapatbermanfa'at wallohu a'lamu bishowab
Wasalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh.
abu nabila
Jumat, 2008 Februari 22
PENYIMPANGAN DALAM MENGIMANI TAUHID ULUHIYYAH
Mengenai Tauhid Uluhiyyah atau Tauhid Ilahiyyah atau Tauhid ‘Iba-dah, berkata Syaikh ‘Abdul-‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baaz –rohimahulloh- : “Yai tu beriman bahwa Alloh subhaanahu adalah Sesembahan Yang benar tidak ada sekutu bagi-Nya dalam hal tersebut, dan ini adalah makna لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ kare-na maknanya yaitu : tidak ada yang layak diibadahi kecuali Alloh. Maka selu-ruh ‘ibadah, seperti sholat, puasa dan lain-lainnya wajib dimurnikan hanya untuk Alloh semata, tidak boleh memalingkan sesuatu pun darinya kepada selain-Nya.”
Tauhid inilah yang membedakan antara muslim dan kafir. Berkata Syaikh Muhammad Jamil Zainu –rohimahulloh- : “Jenis tauhid inilah yang diingkari o leh orang-orang kafir, padanyalah terjadi pertengkaran antara umat-umat de-ngan para rosulnya sejak dari Nabi Nuh ‘alaihis-salaam hingga Nabi Muham-mad shollallohu 'alaihi wa sallam.”
Oleh karena itu seruan da’wah seluruh Nabi dan Rosul adalah sama yaitu :
وَ لَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ أُمَّةٍ رَسُوْلاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَ اجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ
“Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang Rosul yang menyeru : “Sembahlah Alloh dan jauhi thoghut !” ( Qs. An-Nahl : 36 )
Berkata Ibnul-Qoyyim Al-Jauziyyah –rohimahulloh- : “Thoghut yaitu setiap a-pa pun yang diperlakukan melampaui batas oleh hamba, baik dengan disem-bah ( dan ia ridho ), diikuti ( tanpa dalil ) dan dita’ati ( pada apa yang menye-lisihi perintah Alloh ).”
Semua nabi dan rosul berkata kepada umatnya :
مَا لَكُمْ مِنْ إِلهٍ غَيْرُهُ
“ Tidak ada sesembahan bagi kalian selain Dia ! ” ( Qs. Al-Mu’minun : 23 )
Dan inilah penyebab penentangan kaum para nabi tersebut kepada nabinya, karena mereka tidak mau memurnikan ibadahnya kepada Alloh semata, tapi menghadapkannya pula kepada berhala-berhala mereka, baik yang berujud patung, binatang, tumbuhan, matahari, bulan, manusia, jin dan sebagainya. Dan ini pula lah yang menyebabkan mereka tidak mau mengatakan لا إله إلا الله karena mereka mengetahui makna dan konsekuensinya, yaitu mesti mening-galkan semua sesembahan yang mereka sembah selain Alloh.
Kedatangan Islam dengan menggaungkan kembali لا إله إلا الله menjadi-kan kaum kafir Quraisy memusuhi kaum muslimin, bahkan menjuluki Nabi Muhammad dengan berbagai julukan yang jelek, seperti : tukang sihir, orang gila, penyair, pendusta, dan sebagainya, padahal sebelum beliau menggema-kan kalimat لا إله إلا الله mereka menggelarinya dengan al-Amiin ( yang terperca ya ) ! Maka tauhid uluhiyyah inilah pemisah antara Islam dengan kekafiran.
Namun kemudian terjadi di umat ini sesuatu yang justru berlawanan dengan konsekuensi لا إله إلا الله ini. Di antaranya munculnya quburiyyah, yaitu pemujaan terhadap kuburan orang-orang sholih, bahkan di beberapa tempat terjadi pula pemujaan terhadap kuburan orang-orang fasiq, bahkan kafir ! Pa dahal awal mula timbulnya berhala di muka bumi ini, yaitu pada zaman Nabi Nuh ‘alaihis-salaam adalah adanya pemujaan terhadap orang-orang sholih dan pengkeramatan terhadap kuburan-kuburan mereka. Setelah berlalu beberapa generasi, mulailah dibuat patung-patung mereka untuk disembah. Akhirnya berkembanglah berhalaisme di masyarakat hingga hari ini.
Berhala-berhala yang pada zaman dahulu hanya berupa patung, gam-bar dan kuburan orang-orang sholih, kemudian bertambah ke bentuk-ben-tuk lain, seperti pemujaan kepada kuburan para nabi, pemujaan kepada ma-laikat, jin, api dan air yang dianggap keramat, pohon dan binatang yang di-anggap suci, matahari, bulan dan bintang-bintang, bahkan kini mulai pula timbul pemujaan terhadap kuburan para politikus, seniman ( artis ) dan orang-orang fasiq dan kafir.
Muncul pula penyimpangan lainnya yang dilakukan oleh beberapa ke lompok Thoriqot Shufiyyah, yaitu dengan mewajibkan melakukan sholat de-ngan menghadap ke kuburan syekh mursyid mereka, atau meletakkan gam-bar atau foto syekh mursyid mereka di hadapannya, atau membayangkan wa jah syekh mursyid mereka untuk mencapai khusyu’ di dalam sholatnya.
Penyimpangan, atau bahkan kekafiran lainnya yaitu munculnya bebe rapa golongan yang menyembah kepada beberapa orang yang mereka yakini telah bersatu dengan Alloh, seperti golongan Hululiyyah yang menyembah Al-Hallaj dan sejenisnya. Demikian pula ajaran Bahaiyyah yang mewajibkan pengikutnya untuk sholat dengan menghadap ke arah di mana Baha’ berada.
Faham Hululiyyah lainnya adalah ajaran yang disebarkan oleh Hil-man Ad-Dimasyqi yang meyakini bahwa Alloh menitis kepada setiap bentuk yang bagus. Pengikut aliran ini berfaham bahwa Alloh pada setiap saat memi liki bentuk khusus, sehingga mereka selalu bersujud kepada sesuatu yang ba- gus yang dianggapnya sebagai perwujudan dari Alloh.
Faham kafir lainnya yaitu faham Pantheisme atau Wihdatul-Wujud yang diajarkan oleh Ibnu ‘Arobi . Faham ini meyakini bahwa wujud yang ha-kiki di alam ini hanyalah wujud Alloh, sedangkan wujud alam ini hanyalah wujud semu atau semata-mata hanya bayangan dari wujud Alloh. Maka ali-ran ini membolehkan penyembahan kepada apa pun yang ada, apakah kepa-da berhala, binatang, batu, bahkan kepada bangkai sekali pun, karena menu-rut faham mereka, semua perwujudan itu hakekatnya adalah wujud Alloh.
Kesalahan dalam mengimani tauhid uluhiyyah begitu banyak, mem-butuhkan banyak tempat dan waktu untuk menguraikannya secara lebih rin-ci. Namun secara umum dapat disimpulkan bahwa segala macam penyelewe ngan dalam bertauhid uluhiyyah, faktor utama yang menyebabkannya adalah ketidakfahaman dengan makna لا إله إلا الله dan makna ibadah yang benar yang dikehendaki oleh syari’at. Oleh karena itu wajib bagi setiap muslim untuk meluruskan tauhid uluhiyyah-nya dengan memahami secara benar makna ibadah dan makna لا إله إلا الله . Perkara ini sangat penting, karena penyeleweng an dari tauhid uluhiyyah pasti berakhir dengan kekafiran, mungkin kufur ashghor ( kafir kecil ) atau kufur akbar ( kafir besar ), bahkan bisa jadi lebih kafir daripada kekafiran orang Yahudi dan Nashrani !
{ ‘Abdulloh A. Darwanto }
Tauhid inilah yang membedakan antara muslim dan kafir. Berkata Syaikh Muhammad Jamil Zainu –rohimahulloh- : “Jenis tauhid inilah yang diingkari o leh orang-orang kafir, padanyalah terjadi pertengkaran antara umat-umat de-ngan para rosulnya sejak dari Nabi Nuh ‘alaihis-salaam hingga Nabi Muham-mad shollallohu 'alaihi wa sallam.”
Oleh karena itu seruan da’wah seluruh Nabi dan Rosul adalah sama yaitu :
وَ لَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ أُمَّةٍ رَسُوْلاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَ اجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ
“Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang Rosul yang menyeru : “Sembahlah Alloh dan jauhi thoghut !” ( Qs. An-Nahl : 36 )
Berkata Ibnul-Qoyyim Al-Jauziyyah –rohimahulloh- : “Thoghut yaitu setiap a-pa pun yang diperlakukan melampaui batas oleh hamba, baik dengan disem-bah ( dan ia ridho ), diikuti ( tanpa dalil ) dan dita’ati ( pada apa yang menye-lisihi perintah Alloh ).”
Semua nabi dan rosul berkata kepada umatnya :
مَا لَكُمْ مِنْ إِلهٍ غَيْرُهُ
“ Tidak ada sesembahan bagi kalian selain Dia ! ” ( Qs. Al-Mu’minun : 23 )
Dan inilah penyebab penentangan kaum para nabi tersebut kepada nabinya, karena mereka tidak mau memurnikan ibadahnya kepada Alloh semata, tapi menghadapkannya pula kepada berhala-berhala mereka, baik yang berujud patung, binatang, tumbuhan, matahari, bulan, manusia, jin dan sebagainya. Dan ini pula lah yang menyebabkan mereka tidak mau mengatakan لا إله إلا الله karena mereka mengetahui makna dan konsekuensinya, yaitu mesti mening-galkan semua sesembahan yang mereka sembah selain Alloh.
Kedatangan Islam dengan menggaungkan kembali لا إله إلا الله menjadi-kan kaum kafir Quraisy memusuhi kaum muslimin, bahkan menjuluki Nabi Muhammad dengan berbagai julukan yang jelek, seperti : tukang sihir, orang gila, penyair, pendusta, dan sebagainya, padahal sebelum beliau menggema-kan kalimat لا إله إلا الله mereka menggelarinya dengan al-Amiin ( yang terperca ya ) ! Maka tauhid uluhiyyah inilah pemisah antara Islam dengan kekafiran.
Namun kemudian terjadi di umat ini sesuatu yang justru berlawanan dengan konsekuensi لا إله إلا الله ini. Di antaranya munculnya quburiyyah, yaitu pemujaan terhadap kuburan orang-orang sholih, bahkan di beberapa tempat terjadi pula pemujaan terhadap kuburan orang-orang fasiq, bahkan kafir ! Pa dahal awal mula timbulnya berhala di muka bumi ini, yaitu pada zaman Nabi Nuh ‘alaihis-salaam adalah adanya pemujaan terhadap orang-orang sholih dan pengkeramatan terhadap kuburan-kuburan mereka. Setelah berlalu beberapa generasi, mulailah dibuat patung-patung mereka untuk disembah. Akhirnya berkembanglah berhalaisme di masyarakat hingga hari ini.
Berhala-berhala yang pada zaman dahulu hanya berupa patung, gam-bar dan kuburan orang-orang sholih, kemudian bertambah ke bentuk-ben-tuk lain, seperti pemujaan kepada kuburan para nabi, pemujaan kepada ma-laikat, jin, api dan air yang dianggap keramat, pohon dan binatang yang di-anggap suci, matahari, bulan dan bintang-bintang, bahkan kini mulai pula timbul pemujaan terhadap kuburan para politikus, seniman ( artis ) dan orang-orang fasiq dan kafir.
Muncul pula penyimpangan lainnya yang dilakukan oleh beberapa ke lompok Thoriqot Shufiyyah, yaitu dengan mewajibkan melakukan sholat de-ngan menghadap ke kuburan syekh mursyid mereka, atau meletakkan gam-bar atau foto syekh mursyid mereka di hadapannya, atau membayangkan wa jah syekh mursyid mereka untuk mencapai khusyu’ di dalam sholatnya.
Penyimpangan, atau bahkan kekafiran lainnya yaitu munculnya bebe rapa golongan yang menyembah kepada beberapa orang yang mereka yakini telah bersatu dengan Alloh, seperti golongan Hululiyyah yang menyembah Al-Hallaj dan sejenisnya. Demikian pula ajaran Bahaiyyah yang mewajibkan pengikutnya untuk sholat dengan menghadap ke arah di mana Baha’ berada.
Faham Hululiyyah lainnya adalah ajaran yang disebarkan oleh Hil-man Ad-Dimasyqi yang meyakini bahwa Alloh menitis kepada setiap bentuk yang bagus. Pengikut aliran ini berfaham bahwa Alloh pada setiap saat memi liki bentuk khusus, sehingga mereka selalu bersujud kepada sesuatu yang ba- gus yang dianggapnya sebagai perwujudan dari Alloh.
Faham kafir lainnya yaitu faham Pantheisme atau Wihdatul-Wujud yang diajarkan oleh Ibnu ‘Arobi . Faham ini meyakini bahwa wujud yang ha-kiki di alam ini hanyalah wujud Alloh, sedangkan wujud alam ini hanyalah wujud semu atau semata-mata hanya bayangan dari wujud Alloh. Maka ali-ran ini membolehkan penyembahan kepada apa pun yang ada, apakah kepa-da berhala, binatang, batu, bahkan kepada bangkai sekali pun, karena menu-rut faham mereka, semua perwujudan itu hakekatnya adalah wujud Alloh.
Kesalahan dalam mengimani tauhid uluhiyyah begitu banyak, mem-butuhkan banyak tempat dan waktu untuk menguraikannya secara lebih rin-ci. Namun secara umum dapat disimpulkan bahwa segala macam penyelewe ngan dalam bertauhid uluhiyyah, faktor utama yang menyebabkannya adalah ketidakfahaman dengan makna لا إله إلا الله dan makna ibadah yang benar yang dikehendaki oleh syari’at. Oleh karena itu wajib bagi setiap muslim untuk meluruskan tauhid uluhiyyah-nya dengan memahami secara benar makna ibadah dan makna لا إله إلا الله . Perkara ini sangat penting, karena penyeleweng an dari tauhid uluhiyyah pasti berakhir dengan kekafiran, mungkin kufur ashghor ( kafir kecil ) atau kufur akbar ( kafir besar ), bahkan bisa jadi lebih kafir daripada kekafiran orang Yahudi dan Nashrani !
{ ‘Abdulloh A. Darwanto }
Selasa, 2008 Februari 19
MEWASPADAI ALIRAN SESAT
وَ أَنَّ هَذَا صِراطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ وَ لاَ تَتَّبِعُوْا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهِ
ذالِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
“Sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia ! Jangan ka-lian ikuti jalan-jalan yang lainnya niscaya ( jalan-jalan yang lain ) tersebut a-kan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya, yang demikian diwasiatkan ke-pada kalian agar kalian bertaqwa.” ( Qs. Al-An’am : 153 )
Berkata Al-Hafizh Ibnu Katsir : “Sesungguhnya disebutkan jalan-Nya dalam bentuk tunggal tidak lain karena kebenaran itu hanya satu, oleh sebab itu di-jamakkan lafazh السبل ( jalan-jalan yang lain ) karena perpecahannya dan bergolong-golongannya jalan-jalan lain tersebut.”
Jalan Alloh yang lurus itu adalah yang setiap hari kita memohonkannya di da lam sholat kita :
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ , صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَ لاَ الضَّالِّيْنَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Eng-kau karuniai ni’mat, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bu-kan pula jalan orang-orang yang sesat.” ( Qs. Al-Fatihah : 6 – 7 )
Siapakah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Alloh ‘azza wa jalla ? Di sebutkan dalam ayat yang lainnya :
وَ مَنْ يُطِعِ اللهَ وَ الرَّسُوْلَ فَأُولئِكَ مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَ الصِّدِّيْقِيْنَ وَ الشُّهَدَاءِ وَ الصَّالِحِيْنَ
وَ حَسُنَ أُولئِكَ رَفِيْقًا
“Barangsiapa yang menta’ati Alloh dan Rosul-Nya, itulah orang-orang yang akan bersama dengan orang-orang yang telah Alloh berikan ni’mat kepada mereka, yaitu para Nabi, para Shiddiqin, para Syuhada’ dan para Sholihin, dan mereka itulah sebaik-baik teman.” ( Qs. An-Nisa’ : 69 )
Sehingga jalan yang lurus adalah mengikuti perintah Alloh dan Rosul-Nya, meneladani para nabi, para shiddiqin, para syuhada’ dan para sholihin.
Berkata Al-Junaid : “Semua jalan ( menuju Alloh ) tertutup, terkecuali atas orang-orang yang mengikuti jejak-langkah Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam, mengikuti sunnah dan jalan beliau, karena jalan-jalan kebaikan semua terbuka atasnya, sebagaimana firman Alloh Ta’ala :
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sesungguhnya telah ada bagi kalian pada diri Rosululloh suri tauladan yang baik.” - ( Qs. Al-Ahzab : 21 ) -.”
Adapun jalan-jalan lain yang akan mencerai-beraikan kaum muslimin dari ja-lan Alloh yang lurus adalah sebagaimana disebutkan oleh Mujahid :
“ و لا تتّبعوا السبل ( jangan kamu ikuti jalan-jalan yang lainnya ), yaitu bid’ah, syubhat dan kesesatan.” ( Tafsir Mujahid : 227 )
Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ أَهْلَ الْكِتَابَيْنِ افْتَرَقُوْا فِيْ دِيْنِهِمْ عَلَى اثْنَتَيْنِ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً , وَ إِنّ هَذِهِ الأُمَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً
- يَعْنِيْ : الأَهْوَاءُ – كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً , وَ هِيَ الْجَمَاعَةُ
“Sesungguhnya dua ahli kitab ( Yahudi dan Nashrani ) telah terpecah menja-di 72 aliran, dan umat ini akan terpecah menjadi 73 aliran –yaitu pengikut ha wa nafsu-, semuanya di dalam neraka kecuali satu, yaitu Al-Jama’ah.”
[ HSR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Abi ‘Ashim dan Al-Hakim ]
Berkata Al-Imam At-Tirmidzi : “ Tafsir Al-Jama’ah menurut para ulama, yai tu : ahli fiqh, ahli ilmu ( agama ) dan ahli hadits.” ( Al-Jami’ : 4 / 467 )
Sehingga seseorang yang ingin selamat dari kesesatan dan hawa nafsu, maka hendaklah ia berpegang dengan Al-Jama’ah, yaitu dengan bimbingan para ‘ulama yang faham tentang petunjuk Alloh dan Rosul-Nya.
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَ لاَ يَشْقَى
“Barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, maka ia tidak akan sesat dan tidak a-kan celaka.” ( Qs. Thoha : 123 )
Berkata ‘Abdulloh bin ‘Abbas rodhiyalohu ‘anhuma : “Barangsiapa yang be-lajar Kitabulloh ( Al-Qur’an ), kemudian mengikuti apa yang ada di dalam-nya, Alloh pasti memberikan petunjuk kepadanya dari kesesatan di dunia, dan menjaganya pada hari perhitungan amal dari hisab yang jelek.”
Dalam hadits yang lain Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda :
وَ إِنَّ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً , وَ تَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً , كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً , قَالُوا : مَنْ هِيَ , يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ : مَا أنَا عَلَيْهِ وَ أَصْحَابِيْ
“Sesunguhnya Bani Israil telah terpecah menjadi 72 aliran, dan umatku akan terpecah menjadi 73 aliran, semuanya dalam neraka kecuali satu aliran.” Para Shahabat bertanya “Siapa itu, wahai Rosululloh ?” Rosul menjawab : “Yaitu yang mengikuti apa yang aku dan para shahabatku berada di atasnya.”
[ HHR. At-Tirmidzi, Al-Lalikai, dan lain-lainnya ]
Dalam riwayat yang lain Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam berpesan :
فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِيْ فَسَيَرى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا , فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَ سُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ , عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ , وَ إِيَّاكُمْ وَ مُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ , فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Sesungguhnya barangsiapa yang masih hidup di antara kalian sepeninggal-ku, ia akan menjumpai perselisihan yang banyak, maka wajib bagi kalian ber-pegang dengan Sunnahku dan Sunnah para Al-Khulafa’ Ar-Rosyidin yang terbimbing, gigitlah dengan gigi taringmu ! Dan waspadalah kalian dari seti-ap hal-hal baru yang diada-adakan ( dalam urusan agama ), karena setiap bid ‘ah itu sesat.” [ HSR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi ]
Semua ayat, hadits dan atsar para shahabat di atas menunjukkan wajibnya mengikuti Al-Qur’an dan Hadits Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam dengan pemahaman yang lurus, yaitu pemahaman para shahabat.
Menjelang akhir masa Pemerintahan Kholifah ‘Utsman bin Al-‘Affan rodhiyallohu ‘anhu mulailah di masyarakat kaum muslimin bermun- culan berbagai aliran bid’ah dan sesat, seperti Khowarij, Syi’ah, dan se-bagainya. Semua aliran sesat tersebut akan terus muncul di setiap zaman de-ngan berbagai simbol dan slogan yang baru dan terus pula berkembang demi mencari banyak pengikut. Dan memang salah satu ciri akhir zaman adalah orang-orang akan mengambil ilmu agama dari para ahli bid’ah yang sesat, sebagamana tersebut di dalam hadits Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam :
إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ الأَصَاغِرِ
“Termasuk ciri hari Qiyamat yaitu ilmu agama akan dipelajari dari orang-o-rang kecil/rendahan.” [ HSR. Ibnul-Mubarok dan Al-Lalikai ]
Berkata Ibnul-Mubarok : “Orang-orang kecil/rendahan yaitu ahli bid’ah.”
Maka dari itu Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam berpesan :
فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَ إِنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَ أَنْتَ عَلَى ذَلِكَ
“Maka jauhilah golongan-golongan itu semuanya, sekalipun dengan demi-kian engkau harus menggigit akar pohon hingga maut menjemputmu dan engkau tetap dalam keadaan seperti itu ! “ [ HR. Al-Bukhori dan Muslim ]
Berkata Asy-Syaikh As-Sindi : “Yaitu pegangilah dengan sabar dan taqwa un tuk tetap menjauhi mereka sekalipun dengan apa yang hampir tidak layak un tuk dipegangi. Sedang menggigit akar pohon adalah kiasan dari kesusahpayah-annya. “ ( Al-Bukhori Bi Hasyiyah As-Sindi : 4 / 225 )
{ ‘Abdulloh A. Darwanto }
ذالِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
“Sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia ! Jangan ka-lian ikuti jalan-jalan yang lainnya niscaya ( jalan-jalan yang lain ) tersebut a-kan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya, yang demikian diwasiatkan ke-pada kalian agar kalian bertaqwa.” ( Qs. Al-An’am : 153 )
Berkata Al-Hafizh Ibnu Katsir : “Sesungguhnya disebutkan jalan-Nya dalam bentuk tunggal tidak lain karena kebenaran itu hanya satu, oleh sebab itu di-jamakkan lafazh السبل ( jalan-jalan yang lain ) karena perpecahannya dan bergolong-golongannya jalan-jalan lain tersebut.”
Jalan Alloh yang lurus itu adalah yang setiap hari kita memohonkannya di da lam sholat kita :
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ , صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَ لاَ الضَّالِّيْنَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Eng-kau karuniai ni’mat, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bu-kan pula jalan orang-orang yang sesat.” ( Qs. Al-Fatihah : 6 – 7 )
Siapakah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Alloh ‘azza wa jalla ? Di sebutkan dalam ayat yang lainnya :
وَ مَنْ يُطِعِ اللهَ وَ الرَّسُوْلَ فَأُولئِكَ مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَ الصِّدِّيْقِيْنَ وَ الشُّهَدَاءِ وَ الصَّالِحِيْنَ
وَ حَسُنَ أُولئِكَ رَفِيْقًا
“Barangsiapa yang menta’ati Alloh dan Rosul-Nya, itulah orang-orang yang akan bersama dengan orang-orang yang telah Alloh berikan ni’mat kepada mereka, yaitu para Nabi, para Shiddiqin, para Syuhada’ dan para Sholihin, dan mereka itulah sebaik-baik teman.” ( Qs. An-Nisa’ : 69 )
Sehingga jalan yang lurus adalah mengikuti perintah Alloh dan Rosul-Nya, meneladani para nabi, para shiddiqin, para syuhada’ dan para sholihin.
Berkata Al-Junaid : “Semua jalan ( menuju Alloh ) tertutup, terkecuali atas orang-orang yang mengikuti jejak-langkah Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam, mengikuti sunnah dan jalan beliau, karena jalan-jalan kebaikan semua terbuka atasnya, sebagaimana firman Alloh Ta’ala :
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sesungguhnya telah ada bagi kalian pada diri Rosululloh suri tauladan yang baik.” - ( Qs. Al-Ahzab : 21 ) -.”
Adapun jalan-jalan lain yang akan mencerai-beraikan kaum muslimin dari ja-lan Alloh yang lurus adalah sebagaimana disebutkan oleh Mujahid :
“ و لا تتّبعوا السبل ( jangan kamu ikuti jalan-jalan yang lainnya ), yaitu bid’ah, syubhat dan kesesatan.” ( Tafsir Mujahid : 227 )
Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ أَهْلَ الْكِتَابَيْنِ افْتَرَقُوْا فِيْ دِيْنِهِمْ عَلَى اثْنَتَيْنِ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً , وَ إِنّ هَذِهِ الأُمَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً
- يَعْنِيْ : الأَهْوَاءُ – كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً , وَ هِيَ الْجَمَاعَةُ
“Sesungguhnya dua ahli kitab ( Yahudi dan Nashrani ) telah terpecah menja-di 72 aliran, dan umat ini akan terpecah menjadi 73 aliran –yaitu pengikut ha wa nafsu-, semuanya di dalam neraka kecuali satu, yaitu Al-Jama’ah.”
[ HSR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Abi ‘Ashim dan Al-Hakim ]
Berkata Al-Imam At-Tirmidzi : “ Tafsir Al-Jama’ah menurut para ulama, yai tu : ahli fiqh, ahli ilmu ( agama ) dan ahli hadits.” ( Al-Jami’ : 4 / 467 )
Sehingga seseorang yang ingin selamat dari kesesatan dan hawa nafsu, maka hendaklah ia berpegang dengan Al-Jama’ah, yaitu dengan bimbingan para ‘ulama yang faham tentang petunjuk Alloh dan Rosul-Nya.
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَ لاَ يَشْقَى
“Barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, maka ia tidak akan sesat dan tidak a-kan celaka.” ( Qs. Thoha : 123 )
Berkata ‘Abdulloh bin ‘Abbas rodhiyalohu ‘anhuma : “Barangsiapa yang be-lajar Kitabulloh ( Al-Qur’an ), kemudian mengikuti apa yang ada di dalam-nya, Alloh pasti memberikan petunjuk kepadanya dari kesesatan di dunia, dan menjaganya pada hari perhitungan amal dari hisab yang jelek.”
Dalam hadits yang lain Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda :
وَ إِنَّ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً , وَ تَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً , كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً , قَالُوا : مَنْ هِيَ , يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ : مَا أنَا عَلَيْهِ وَ أَصْحَابِيْ
“Sesunguhnya Bani Israil telah terpecah menjadi 72 aliran, dan umatku akan terpecah menjadi 73 aliran, semuanya dalam neraka kecuali satu aliran.” Para Shahabat bertanya “Siapa itu, wahai Rosululloh ?” Rosul menjawab : “Yaitu yang mengikuti apa yang aku dan para shahabatku berada di atasnya.”
[ HHR. At-Tirmidzi, Al-Lalikai, dan lain-lainnya ]
Dalam riwayat yang lain Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam berpesan :
فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِيْ فَسَيَرى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا , فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَ سُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ , عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ , وَ إِيَّاكُمْ وَ مُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ , فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Sesungguhnya barangsiapa yang masih hidup di antara kalian sepeninggal-ku, ia akan menjumpai perselisihan yang banyak, maka wajib bagi kalian ber-pegang dengan Sunnahku dan Sunnah para Al-Khulafa’ Ar-Rosyidin yang terbimbing, gigitlah dengan gigi taringmu ! Dan waspadalah kalian dari seti-ap hal-hal baru yang diada-adakan ( dalam urusan agama ), karena setiap bid ‘ah itu sesat.” [ HSR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi ]
Semua ayat, hadits dan atsar para shahabat di atas menunjukkan wajibnya mengikuti Al-Qur’an dan Hadits Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam dengan pemahaman yang lurus, yaitu pemahaman para shahabat.
Menjelang akhir masa Pemerintahan Kholifah ‘Utsman bin Al-‘Affan rodhiyallohu ‘anhu mulailah di masyarakat kaum muslimin bermun- culan berbagai aliran bid’ah dan sesat, seperti Khowarij, Syi’ah, dan se-bagainya. Semua aliran sesat tersebut akan terus muncul di setiap zaman de-ngan berbagai simbol dan slogan yang baru dan terus pula berkembang demi mencari banyak pengikut. Dan memang salah satu ciri akhir zaman adalah orang-orang akan mengambil ilmu agama dari para ahli bid’ah yang sesat, sebagamana tersebut di dalam hadits Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam :
إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ الأَصَاغِرِ
“Termasuk ciri hari Qiyamat yaitu ilmu agama akan dipelajari dari orang-o-rang kecil/rendahan.” [ HSR. Ibnul-Mubarok dan Al-Lalikai ]
Berkata Ibnul-Mubarok : “Orang-orang kecil/rendahan yaitu ahli bid’ah.”
Maka dari itu Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam berpesan :
فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَ إِنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَ أَنْتَ عَلَى ذَلِكَ
“Maka jauhilah golongan-golongan itu semuanya, sekalipun dengan demi-kian engkau harus menggigit akar pohon hingga maut menjemputmu dan engkau tetap dalam keadaan seperti itu ! “ [ HR. Al-Bukhori dan Muslim ]
Berkata Asy-Syaikh As-Sindi : “Yaitu pegangilah dengan sabar dan taqwa un tuk tetap menjauhi mereka sekalipun dengan apa yang hampir tidak layak un tuk dipegangi. Sedang menggigit akar pohon adalah kiasan dari kesusahpayah-annya. “ ( Al-Bukhori Bi Hasyiyah As-Sindi : 4 / 225 )
{ ‘Abdulloh A. Darwanto }
Langgan:
Entri (Atom)